Whatsapp Literasi Keluarga (WLK): Gali Potensi yang Belum Terungkap


Untuk menumbuhkan budi pekerti pada masyarakat/pelajar di Indonesia, Kementrerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  (Kemendikbud) menggiatkan sebuah gerakan yang sangat berpotensi untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia yaitu Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan ini dimulai sejak tahun 2016 dan sebelumnya diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Ditjen PAUD dan DIKMAS Kemendikbud. Upaya pemerintah yang sangat serius ini semakin tampak ketika Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk meningkatkan daya baca siswa. Upaya itu sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Caranya, melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, buku-buku pendukung bagi siswa yang berbasis kearifan lokal diterbitkan. Bahkan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) menggagas Gerakan Satu Guru Satu Buku untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam pembelajaran baca dan tulis (http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/tentang-gln/).

Kini sudah bertebaran buku bacaan terbitan kemendikbud yang siap di baca atau diunduh dan dicetak. Semua tersedia di dalam jaringan (daring) dan gratis. Tinggal bagaima kita para pelajar, guru, orang tua, masyarakat dan para pemangku kepentingan memanfaatka sumber-sumber tersebut secara maksimal. Mengapa? Karena untuk mendapat manfaat dari buku-buku itu kita berlu berupaya atau berjuang. Tidak mudah juga, sebab selalu ada hambatan yang menghalangi niatan kita untuk berliterasi. Apa itu? Salah satunya adalah niat, semangat, serta komitmen. Keberadaan sumua sumber bacaan gratis tersebut akan menjadi percuma bila kita tidak memiliki niat yang kuat untuk membaca atau membacakan untuk orang di sekitar kita, anak atau siswa kita. Jika kendala itu tidak diatasi maka hal ini akan menghambat GLN, GLS atau gerakan literasi lainnya.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung gerakan-gerakan tersebut? Dalam tulisan singkat ini saya mengajukan suatu gerakan kecil untuk mendukung suksesnya gerakan literasi. Sebut saja gerakan ini dengan nama Whatsapp Literasi Keluarga (WLK). Mengapa Whatsapp (WA)? Kini kita tinggal di era teknologi yang maha canggih (tapi di masa yang akan datang pasti jauh lebih canggih). Whatsapp sebagai produk teknologi ini memungkinkan penggunanya untuk saling berkomunikasi dengan mudah baik melalui teks, suara, gambar, dan gambar bersuara (video). Platform ini tentu saja memungkinkan kita untuk berliterasi. Jika literasi hanya kita maknai denganmembaca dan menulis, maka semua pengguna WA dipastikan sudah berliterasi. Masalahnya tidak demikian. Literasi yang dimaksud di sini adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa (https://id.wikipedia.org/wiki/Literasi). Maka untuk disebut bahwa pengguna WA sudah berliterasi adalah jika konten yang dibaca, dengar, atau tonton adalah konten yang mendukung kearah kemampuan dan keterampilan di atas.

Mengapa keluarga? Ya, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Dengan demikian pengelolaan keluarga jauh lebih mudah baik dari pengendalian niat, semangat maupun komitmen. Dengan jumlah anggota keluarga yang cukup sedikit, mungkin 4 orang (seperti keluarga saya) yaitu ayah, ibu, kakak, dan adik, kita bisa lebih intensif dalam penggunaan WA.

Bagaimana memulai WLK? Sangat mudah. Saya akan mencontohkan pengalaman saya membuat gerakan ini dalam keluarga saya. Semua berawal dari keprihatinan saya terhadap minat literasi keluarga saya yang rendah. Saya selalu gagal membuat mereka untuk mencintai literasi. Sudah tak berbilang saya membelikan buku-buku bacaan buat mereka mulai dari buku yang bergambar, komik, hingga buku tak bergambar. Semangat mereka adalah hari pertama buku itu saya berikan. Hari berikutnya? Selalu begitu, yaitu mereka bosan dan berhenti membaca. Hingga suatu ketika saya memiliki ide WLK ini. Berikut ini cara saya memulainya.

Pertama, buat grup WA. Saya mebuat grup WA Keluarga saya sendiri yang terdiri dari 4 orang. Saya namakan grup itu Literacy Family. Bukan sok Inggris jika bukan saya namakan Keluarga Literasi, tapi hanya karena saya sudah memiliki banyak grup yang bernama keluarga, seperti Keluarga Mbah ini, Keluarga besar alumni ini itu dan banyak lagi. Nah itu saja. Saya mengundang istri dan kedua anak saya kelas 12 SMA dan 6 SD. Saya katakan kepada mereka: Assalamualaikum Keluargaku Tersayang. Ini grup khusus untuk meningkatkan literasi kita dan sifatnya wajib. Ayah akan memberi tugas-tugas literasi yang wajib dilaksanakan oleh semua anggota grup ini. INGAT gadget kalian adalah pemberian dari orang tua. Gadget itu adalah untuk mendukung kegiatan positif, jadi tidak hanya untuk hal-hal yang bersifat hiburan saja seperti Sule, Ricis, Game, dll. Gadget ini bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga kita. Kalau kalian tidak setuju, kami orang tua akan mempertimbangkan untuk tidak memfasilitasi kalian dengan gadget-gadget itu. Oh ya,.... kabar baiknya... kalian juga boleh memberi tugas anggota lainnya termasuk ayah. INGAT!!! tugas tidak boleh terlalu berat. Ringan asal dikerjakan.... Bagaimana???? Setuju..... Percayalah sama kami, orang tua. Kalian anak-anak akan sukses dengan literasi. Saya bersyukur karena grup ini mendapat respon positif dari semua angota grup. Mereka setuju dengan ketentuan yang saya buat dan tidak keberatan dengan tugas-tugas yang saya berikan.

Kedua, mulailah dengan tugas ringan. Saya memulai dengan tugas menulis. Sebenarnya menulis adalah aktifitas yang tingkat kesulitannya paling tinggi. Maka dari itu saya menugasi dengan tugas yang mudah. Berikut tugas pertama yang saya berikan di grup. Tugas 1. Tuliskan pengalaman kalian hari ini dalam 50 kata (boleh lebih). Batas akhir pengumpulan tugas pukul 20.00. Untuk memudahkan mereka memahami tugas saya, saya memberikan contoh pengalaman saya hari itu. Saya menuliskan pengalaman saya. Tidak saya sangka!!! Anak saya menulis pengalaman mereka. Kakak menulis 67 kata sedangkan adik 75 kata. Betapa gembira hati ini. Belum pernah saya melihat mereka menulis dan membaca tulisan mereka.  Ini tulisan Adik yang 75 kata itu. Hari ini saya sekolah sampai sore 14.30 tetapi tidak banyak yang dipelajari karena harus melatih adek kelas saya yang diikutkan lomba kaligrafi. Setelah melatih kaligrafi saya kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran tidak terasa ternyata diluar sedang hujan deras maka pak Riyanto menyuruh kami pulang lebih dulu dari hari sebelumnya karena hujan. Kemudian saya pulang bersama teman teman. Setelah sampai dirumah saya mencuci sepatu yang kotor karena hujan dan sesudah selesai mencuci sepatu saya istirahat. Cukup sederhana dan beberapa kesalahan baik ejaaan maupun tanda baca. Namun demikian saya melihat ada potensi yang cerah dari tulisan ini. Untuk tugas-tugas menulis berikutnya, saya meningkatkan jumlah kata yang harus mereka tulis. Dari sini saya bisa menggali potensi keluarga saya yang belum terungkap.

Ketiga, pikirkan tugas-tugas lain. Membaca adalah kegiatan yang menarik dalam WLK ini. Tugas pertama yang saya berikan adalah membaca teks yang saya berikan. Saya mencari teks narasi yang sarat akan nilai moral di internet dengan mengunduhnya secara gratis. Panjang teksnya sangat terbatas, di kisaran 200-250 kata. Dengan bacaan itu saya berikan beberapa pertanyaan yang harus mereka jawab. Untuk menghindari copy paste jawaban, saya meminta mereka menulis jawaban tersebut dengan cara jawab secara pribadi (japri). Setelah semua menjawab kemudian saya bagikan jawaban mereka di grup. Luar biasa, mereka antusias menjawab dan rata-rata jawaban mereka benar. Pujian selalu saya berikan kepada semua yang menjawab.

WLK ini bukan tanpa kendala. Rasa malas dan demotivasi menjadi hambatan utama di grup ini. Hal ini sering menimpa kakak. Pernah suatu ketika dia menulis seakan meremehkan grup ini. Dia menulis, ”Ndak nemu cerito” (saya tidak punya cerita). Tentu saya kaget dan tegas saya jawab, “Dalam grup ini tidak boleh menggunakan Bahasa Jawa. Ayo, ini serius dan bukan main-main. Untuk ini Ayah tegas karena ayah dan Ibu ingin melihat kalian sukses. Bisa dimengerti?”. Ternyata, tak berapa lama kakak mengumpulkan tugasnya, yaitu menulis cerita. Jadi menurut saya dia bukan tidak menemukan cerita, tetapi dia malas. Sejak itu dia tidak bernani berbahasa Jawa dalam grup dan selalu mengerjakan tugas yang diberikan.

Aktifitas WLK ini sungguh sangat menantang sekaligus menakjubkan. Betapa tidak, anak-anak saya yang cenderung tertutup dan pendiam, ternyata mereka bisa bersuara dari tulisan-tulisan mereka. Saya harus terus memutar otak memikirkan kegiatan lain selain membaca, menulis. Saya yakin bahwa kemasan tugas yang bagus akan senantiasa menjaga semangat mereka tetap tinggi. Hingga kini keluarga kami terus beraktifitas di grup tersebut. Dan lagi, tugas menugasi ini bukan hanya hak saya, semua anggota grup memiliki hak untuk memberi tugas. Di sinilah keasyikan WLK kami. Namun demikian saya tetap memberi keringanan bagi keluarga saya terutama anak-anak untuk libur dari kegiatan literasi. Libur sya berikan pada akhir pekan yaitu Sabtu dan Minggu, serta ketika mereka ada kegiatan ujian di sekolah.

Bekti Sawiji, M.Pd
Dinas Kominfo Lumajang


sumber gambar:
  • https://www.express.co.uk/life-style/science-technology/1067471/whatspp-dark-mode-how-to-turn-on-dark-mode-whatsapp-chat
  • https://www.independent.co.uk/life-style/gadgets-and-tech/news/whatsapp-update-beta-notification-channels-categories-block-alerts-sound-vibrate-blink-light-a8173731.html 

0 Response to "Whatsapp Literasi Keluarga (WLK): Gali Potensi yang Belum Terungkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel