Aku Mau Dimadu?!


Suasana mulai sepi, pintu Masjid AR Fahrudin lantai dua  masih sedikit terbuka. Bergegas kami berdua mengendap-endap clingukan. Majlis sudah dimulai, ah telat rupanya kita!..
Seorang ukhty melihat kehadiran kami  dan  memberi isyarat untuk masuk dan bergabung dari pintu belakang.


Kajian majlis ta'lim kali ini seorang Ikhwan yang ngisi. Aku tersenyum, cocok bener nih,
QS An Nisa' ayat 3, tentang TA'ADUD!  yang tak pernah usai dibahas. Entah sudah berapa lama kajian ini berlangsung, rasanya aku belum mencerna semuanya ketika sang Ikhwan menanyai para akhwat satu persatu kesiapannya jika kelak dipoligami. Aku mringis, ah Ikhwan ini modus... Batinku usil. Ngapain juga nanya kesiapan segala. Wkwkwkk, emang benar sih pemahaman para akhwat kadang ga sejalan dengan tindakan, apalagi masalah beginian. Ini bukan main-main. Ah jangan-jangan ada yang jadi target, nih. Gak etis juga sih .. apalagi para akhwat adalah para mahasiswa semester awal.

"Bagaimana ukhty, apa anti siap dipoligami?"  Ikhwan  memulai pertanyaan kepada ukhty yang di ujung kiri depan.
"In syaAlllah, " jawabnya lirih. Aiihh kayaknya tertekan nih. Hihihi...
"Bersedia,"
"Ya,"

Maa syaAlllah... Semua menjawab bersedia. Ajib bener... Sungguh Allah Maha penggerak hati. Meski begitu aku tak yakin itu adalah jawaban jujur. Soalnya nih, ada yang jawabnya lirih tapi berat gitu. Ada juga yang nadanya ragu ragu bilang bersedia.
Suasana jadi hening dan menegangkan.
Interogasi masih terus berlangsung. Teman di sampingku mulai gelisah karena sebentar lagi gilirannya.

"Aduh, Fren .. aku jawab apa nih," 
Aku menelan ludah. Kamu kira aku apa ga mikir juga?! Semua jawaban sama brayyy...jadi seolah gada pilihan untuk bernegasi.  Aaaarrrgghhh!!!

"Iya, bersedia,"  katanya pelan tersipu-sipu, akhirnya kalimat itu juga yang keluar dari mulut temanku. Wuhkah! Ngapain harus bohong.
"Anti bagaimana, ukhty?! Sang Ikhwan menatapku. Ah, tiba juga giliranku! Aku terdiam... Tenggorokanku rasanya kering banget. Aku berusaha menelan ludah,  dan rasanya tak ada yang tersisa untuk membasahinya. Huhuhu!
Temanku menyenggol lenganku karena  tak segera menjawab.
Sang Ikhwan masih sabar menungguku, jawaban terakhir dari peserta kajian sore ini.

"Saya mau dipoligami, tapi...,"
Jawabku memberi syarat. Sejenak aku diam mengatur nafas.

"Jika suami saya kelak seperti Nabi Muhammad," jawabku yakin.
Ya, karena saya tak akan menyelisihi ayat Alquran yang datangnya dari Allah. 
Sang Ikhwan terpana. Semua mata menatapku. Sebagian akhwat senyum-senyum setuju.
Aku mendelik menahan sakit. Temanku mencubit pahaku keras sekali.
Sang Ikhwan kembali menatapku datar.
Dan aku tersenyum lebar.  (UMM, 1997)

___

Prasamu gampang ta poligami itu?
Poligami harus mampu  secara finansial, kuat secara fisik, Faqih ilmunya dan tinggi spiritualnya, sehingga  mampu berkeadilan.

Kenapa dalam QS An-nisa ayat 3 ada pengulangan kata Jika dan maka
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja”. [An-Nisa/4 : 3]

Karena ini berat brooo...!!!
Jangan hanya modal semangat dan nafsu doang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

“Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan dan Tirmidzi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih).

Wallahu 'alam bishowaab

(Sifrenisip_penulis MSP)

0 Response to "Aku Mau Dimadu?!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel