Refleksi Guru: Pandemi Bukanlah Akhir


Evaristus Cahya Triastarka, S.Pd
, lahir  di Bantul, 21 Oktober 1981.  Lulus FKIP Prodi PBSID Universitas Sanata Dharma tahun 2004. Tahun 2004-2005 mengajar di SMPK BPK Penabur  Sukabumi Jawa Barat.  Mulai 2005 sampai sekarang menjadi pengajar di sekolah SMP Stella Matutina Salatiga. 

Selain mengajar, suka dunia tulis-menulis di media massa seperti Majalah Genta Marsudirini, Majalah Praba Yogyakarta, Majalah Suara PGRI Lumajang (Kontributor aktif), Majalah Educare, Suara Merdeka, Warta Jateng, Grup Kompasiana, dan Majalah Psikologi Plus.

Pada tahun 2013 sempat menjadi juara 3 guru berprestasi tingkat kota Salatiga. Telah menerbitkan buku “ Pendidikan yang Mendidik”  tahun 2014 terbitan Lingkarantarnusa  Yogyakarta, Tim penulis buku “ Kapur dan Papan 1 Kisah Guru- guru Pembelajar” tahun 2015 terbitan Lingkarantarnusa  Yogyakarta, Editor Buku “Kumpulan Cerita Love Life Story”  tahun 2015 terbitan Lingkarantarnusa  Yogyakarta, Tim  penulis buku “ 3 Alinea Cinta “ tahun 2018 terbitan Lingkarantarnusa  Yogyakarta, Editor buku “Jejak Perjalanan “ tahun 2020 terbitan Griya Media Salatiga. Penulis buku “ Sketsa Guru: Sebuah Catatan” Oktober  2020 terbitan Klik Media Lumajang Jawa Timur. Penulis buku antologi berjudul “ Pandemi Membangunkan Mimpiku” November 2020 terbitan LaksBang PRESSindo Yogyakarta.

 

Pandemi bukanlah akhir sebuah Pendidikan. Ingat jangan pernah kehilangan harapan, karena itu adalah kunci untuk meraih semua mimpimu.

Awal Maret 2020 Indonesia mulai dihantui Corona Virus  (Covid-19). Keadaan yang tidak biasa dan menjadikan setiap insan  was-was jika melakukan aktivitas secara berkelompok. Tidak dapat disalahkan sih kenyataan ini, sungguh mendebarkan semua orang, sebab jika mendengar berita dari luar negeri (Wuhan, China) sungguh mengerikan jumlah korban dari Covid- 19 ini.  

Indonesia pun terdampak dengan pandemi Covid- 19 ini. Semua bidang menjadi terbengkalai, tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Kebijakan demi kebijakan pemerintah muncul untuk memberi rasa aman bagi warga negara Indonesia. Dan kebijakan itupun juga berlaku sampai ke pelosok negeri ini.

Empat belas Maret 2020, Salatiga  menyikapi keadaan yang krusial ini dalam hal pembelajaran anak didik di sekolah. Mulai 16 Maret 2020 anak didik akan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebuah pembelajaran jaraj jauh, peristiwa yang tidak terpikirkan dan dirasakan warga sekolah selama ini. Kebijakan ini berlangsung untuk dua minggu ke depan, dan bisa diperpanjang jika memungkinkan.

Semua melakukan dengan senang hati demi sebuah kenyamanan dan kesehatan warga sekolah. Siswa SMP Stella Matutina Salatiga pun melakukan PJJ seperti anjuran pemerintah Salatiga. Tak terbayangkan sebelumnya hal  ini berlaku dua minggu saja atau sebulan dua bulan.

Tak disangka dan tak terduga sampai hari ini (30 Maret 2021, saat saya mengetik cerita ini), PJJ pun masih berlaku bagi anak didikku. Ya, setahun lebih pandemi ini belum menampakkan akan berhenti total, masih ada saja korban yang terserang Covid- 19. Tentu dengan jumlah yang tidak sedahsyat waktu sebelumnya. Tapi tetap belum membuat kami nyaman dan aman jika berkomunikasi langsung dengan rekan, saudara, dan saat berkerumun.

Pandemi ini sungguh memberikan pelajaran bagi kita tentang berharganya kesehatan, daya tahan tubuh, dan pentingnya protokol kesehatan. Dalam pengalaman pembelajaran pun kita harus mengikuti perkembangan informatika. Semua  serba on line serba internet, dalam pembelajaran diharapkan dengan berbagai aplikasi seperti dengan classroom, google meet, zoom meeting, quipper, zenius, dan yang lainnya (Bingung sebutin karena banyak aplikasi). Kita harus mengikuti itu, memang sih tidak semua pendidik (termasuk saya) bisa mnggunakan berbagai macam aplikasi pembelajaran karena keterbatasan ilmu. Namun, ya sedikit- sedikit tetap harus belajar dan tidak malu bertanya dengan teman yang mudah cakap dalam penggunaan aplikasi tersebut.   

Dalam penanganan permasalah anak pun ternyata semakin mengggunung dalam masa PJJ. Tidak pernah tatap muka (setahun lebih) di sekolah semua serba daring membuat karakter anak dan sikap- sikap anak tidak dapat terkontrol oleh guru. Orang tua selaku guru di rumah yang 24 jam memantau pun kadang kewalahan menghadapi anaknya. Tugas- tugas banyak yang tidak terkumpul, saat meet yang ikut hanya 4-7 anak, menjadi pemandangan yang perlu terselesaikan.  Semua serba berubah dan perlu inovasi dalam penangan anak didik.

Sebagai wali kelas, saya memantau setiap hari lewat WA grup anak, orang tua, cek absen di classroom. Dan ini wajib dilakukan demi keberlangsungan proses pembelajaran yang tertib dan penuh disiplin. Tetapi ya namanya anak, tetap saja ada yang bangunnya kesiangan, alasan kuota, gawai rusak, dan seribu alas an lainnya. Untuk kejadian semacam ini tentu saya segera data dan melakukan kunjungan ke rumah anak didik saya.

Sebuah pelayanan memang butuh pengorbanan, tapi demi baiknya keadaan anak didik kita harus siap sedia setiap waktu. Jarak tempuh sekolah ke rumah anak- anak yang tidak bisa dikatakan dekat ( ada yang 20 KM, 30 KM) pun tetap kami layani. Kita berbincang dengan anak, orang tua atau wali murid meminta informasi kesulitan dalam PJJ anak, masukan untuk sekolah, kendala komunikasi anak dan orang tua serta permasalah lain yang mereka temukan. Ini semua demi perkembangan pembelajaran anak didik dan kebermaknaan proses PJJ.

Apapun alasannya jika untuk sekolah menengah, pembelajaran tatap muka tetap jadi yang terbaik. Bisa melihat langsung anak didik, sifat karakter anak, dan menasihati pun lebih nyaman. Yah, semoga badai pandemi Covid- 19 segera berlalu dan pembelajaran tatap muka segera kembali dapat terselenggara. Dunia pendidikan kembali bergairah untuk mencetak masa depan penerus bangsa. Ingat, kata Nelson Mandela “ Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia karena dengan pendidikan kita dapat mengubah dunia.

0 Response to "Refleksi Guru: Pandemi Bukanlah Akhir"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel